Menurut beberapa pakar,ini merupakan surah ke 80 dari segi perurutan turunnya surah-surah Al-Quran.Ia turun setelah surah Al-Ma'rij dan sebelum surah An-Naziat.Jumlah ayatnya menurut perhitungan ulama Madinah,Syam dan Bashrah adalah 40 ayat,sedang menurut perhitungan ulama Mekkah dan Kuffah adalah 41 ayat.
Ayat : 1-5
- Tentang apakah mereka saling bertanya ?
- Tentang berita besar
- yang mereka tentang itu saling berselisih
- Sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui
- Kemudian sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui.
Tentang apakah mereka bertanya,yakni penduduk Mekkah itu saling bertanya .Disini tidak disebutkan tentang apa sebenarnya yang mereka pertanyakan.Ini demi menunjukan keseriusan hal itu.Kata Amma' kata yang terdiri dari huruf 'an dan ma.Lalu huruf alif pada huruf ma dihapus untuk mempersingkat,sekaligus mengisyaratkan bahwa pertanyaan itu dihapus dan tidak perlu muncul.Ini adalah sesuatu yang sangat jelas,sehingga sungguh aneh yang mempertanyakannya,apalagi yang mengingkarinya.Yatasa'alun terambil dari kata Tasa'ala yang menunjukan ada dua pihak yang saling bertanya.Ia digunakan juga arti seringnya terjadi hal tersebut.
Mereka bertanya tentang berita besar,yaitu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,antara lain keniscayaan kiamat,yang mereka tentang beruta penting itu saling berselisih.Ada yang membenarkannya tanpa ragu,ada yang bimbang untuk menerimanya,ada yang menolaknya,ada juga yang menerimanya tapi mengingkarinya karena keras kepala..Kata An-naba' hanya digunakan untuk berita yang penting.Berbeda dengan kata Khabar yang pada umumnya digunakan juga untuk berita-berita sepele.sementara ulama mengatakan bahwa berita baru dinamakan naba' apabila mengandung manfaat besar dalam pemberitaanya,adanya kepastian, atau paling tidak dugaan besar tentang kebenarannya.
Penyifatan An-naba' dengan Al-azhim (besar - agung)menunjukan bahwa berita itu bukanlah berita biasa.Bukan saja pada peristiwanya tapi juga pada kejelasan dan bukti-buktinya,sehingga mestinya ia tidak dipertanyakan lagi.Kata ganti hum (mereka) yang disimi berstatus sebagai pelaku,menunjukan bahwa perbedaan mereka menyangkut hal yang mereka saling pertanyakan itu sangat besar,bahkan seakan-akan tidak ada lagi perbedaan yang lain antar mereka kecuali hal tersebut.Ini diisyaratkan oleh penempatan kata fihi antara kata hum(mereka)dan mukhtalifun(melakukan perselisihan).
Pengingkaran dan kebimbangan mereka itu dikecam oleh Allah SWT dengan firman-Nya : sekali-kali tidak,bukanlah hal yang demikian pasti dan jelas itu yang masih perlu dipertanyakan apalagi diingkari.Hendaknya mereka berhati-hati terhadap akibat pengingkaran itu,kelak mereka akan mengetahui secara pasti kebenarannyasemua akibat penolakan mereka itu,yaitu ketika mereka menyaksikan sendiri kejadiannya.
Kata Kalla (sekali-kali tidak) dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap suatu yang tidak benar,yakni pasti akan terungkap hakikat berita itu bagi mereka.Dan mereka akan menyaksikan kebenarannya kelak pada hari kiamat.Kemudian sekali lagi,sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui betapa besar siksa yang menimpa akibat penolakan itu.Kata tsumma(kemudian) pada ayat ini mengesankan bahwa ancaman yang dikandung oleh ayat sesudah kata tsumma itu lebih besar dari ayat sebelumnya.
Bersambung...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar