kodokngorek
Minggu, 22 Desember 2013
Ayat :
(29) Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam sebuah kitab
(30) Maka rasakanlah.Maka Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain siksa
TAFSIR:
Segala sesuatu telah kami jadikan untuknya timbangan serta ukuran dan segala sesuatu yang berkaitan dengan amal-amal yang kami mintai pertanggungjawaban itu telah kami catat dengan pencatatan yang teliti dan rinci,dalam sebuah kitab yaitu kitab amalan kamu yang selama hidup telah dicatat oleh malaikat atau kami catat dalam al-lauh al-mahfuzh,karena itu ia tif]dak
Kata ahsha dapat berarti menghitung secara sangat teliti.Ia terambil dari kata hasha,yakni batu-batu kecil.Itu karena dahulu biasanya demi ketelitian,jika seorang melakukan perhitungan dan telah mencapai jumlah tertentu,maka dia meletakan batu kecil sebagai lambing jumlah yang telah dihitung.Kata tersebut dapat juga berarti menulis atau mencatat.Karena baik maenghitung,menulis atau mencatat,keduanya mengandung makna ketelitian dan pemeliharaan.Ayat 29 di atas bias juga merupakan ihtibak,yakni tidak menyebut satu kata karena telah diisyaratkan dengan adanya kata itu pada redaksinya.Sehingga ayat diatas bagaikan menyatakan: Dan segala sesuatu telah Kami hitung dengan perhitungan yang sangat teliti,dan segala sesuatu telah kami tulis dalam suatu kitab.
Maka karena itu rasakanlah wahai para pendurhaka siksa itu maka jangan harap siksa itu akan berkurang dengan berlalunya waktu.Dan Kami tidak akan menambah kepada kamu selain siksa yang lebih pedih.yakni siksa yang telah kamu alami akan disusul oleh siksa lainnya yang lebih pedih.
Ucapan yang ditujukan kepada para pendurhaka itu,dinilai oleh sebagian ulama sebagai ayat yang paling keras terhadap para penghuni neraka,karena setiap mereka meminta keringanan,siksa itu justru bertambah.Dalam redaksi ayat ini terdapat sekian banyak penekanan.Pertama kata lan / tidak akan,kedua.pengalihan redaksi dari persona ketiga ke persona kedua yang ditujukan langsung kepada yang tersiksa,padahal sebelumnya digunakan persona ketiga.Sedangkan penekanan ketiga adalah kata fa dzuqu / rasakanlah setelah sebelumnya telah disebut adaanya saiksa.
Jumat, 29 November 2013
Ayat:
(27) Sesungguhnya dahulu mereka tidak mengharapkan hisab.
(28) Dan mereka telah mengingkari ayat-ayat Kami dengan pengingkaran sebesar-besarnya.
TAFSIR:
Sesungguhnya sejak dahulu dan ini telah menjadi bagian dari kepribadian mereka,bahkan mereka selalu dan secara terus menerus hingga kini,mereka tidak mengharapkan adanya hisab,yaitu tuntutan pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka,atau tidak takut menghadapinya sehingga mereka tidak berusaha menyelamatkan diri.Kata kanu / dahulu,dipahami juga sebagai mencerminkan kemantapan kepribadian mereka dalam sifat buruk tersebut,dan bahwa ketidakpercayaan itu telah mendarah daging dalam diri mreka.Penggunaan kata kerja masa kini (mudhari) pada kata la yarjuna/ tidak mengharapkan untuk menunjukan sikap mereka kini-dan bias jadi sampai masa dating.Ada yang berpendapat bahwa pemilihan kata mengharap disini karena sebelumnya Allah telah menjelaskan siksa yang disiapkan buat kaum musyrikin itu.Kaum muslimin yang mendengar ancaman tersebut merasa senang dan menantikan dengan penuh harap datangnya siksa tersebut.Dari sini ayat di atas menafikan harapan serupa dari kaum musyrikin.Dengan kata tersebut ayat 27 diatas mengandung dua makna sekaligus; yang pertama menafikan kepercayaan kaum musyrikin tentang hari kebangkitan dan kedua,mengisyaratkan harapan kaum muslimin.
Dan mereka telah mengingkari ayat-ayat Kami yang terbaca,yaitu Al-Quran atau yang terhampardi alam raya dengan pengingkaran yang sebesar-besarnya .Penekana kata kadzdzabu (mengingkari atau mendustakan) dengan kata kidzdzabun menggambarkan betapa besar sekaligus aneh pengingkaran mereka itu,seakan-akan seandainya mereka mendengar kebohongan yang besar,mereka tidak mengingkarinya sebagaimana pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan,padahal ia adalah hakikat yang merupakan keniscayaan.Penggunaan bentuk kata kerja lampau (kadzdzaba) untuk pengingkaran sedang sebelumnya menggunakan bentuk kata kerja masa kini (la yarjuna),untuk menggambarkan kemantapan pengingkaran tersebut dalam diri mereka.Ini karena mereka sering berkata: Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepada-Nya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding.(QS.Fushshilat [41]:5)
Karena mereka tidak mengharap adanya kebangkitan manusia,maka mereka tidak pernah memperhitungkan apa yang akan terjadi disana,dan ini menjadikan mereka sama sekali tidak melakukan kegiatan kecuali yang berkaitan dengan kehidupan sekarang di dunia.
Ayat:
(21) Sesungguhnya jahanam adalah tempat mengintai.
(22) Bagi para pelampau batas ia adalah tempat kembali.
(23) Mereka tinggal didalamnya beabad-abad lamanya.
(24) Mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak (pula) minum.
(25) Tetapi air mendidih dan nanah.
(26) Sebagai balasan yang setimpal.
TAFSIR:
Sesungguhnya neraka jahanam adalah tempat mengintaipara penjaga neraka atau ia adalah jalan yang harus dilalui semua manusia.Mirshadan terambil dari kata rashada yang dapat berarti menyiapkan atau mengintai.Bila kita memahaminya dalam arti yang kedua ini,maka ia pun dapat diartikan dengan jalan.Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada jembatan di neraka dimana ada pengawas (penjaga-penjaga) yang menanyakan setiap orang yang melewatinya,tentang syahadatnya,bila berhasil dia melanjutkan pejalanan untuk sampai pada penanya kedua tentang sholatnya.Demikian lalu tentang zakatnya,kemudian tentang puasanya,kemudian tentang hajinya lalu ‘umrahnya,dan yang terakhir atau yang ketujuh adalah tentang penganiayaan-penganiayaan yang pernah dilakukannya.Jika memenuhi syarat dia lolos,dan bila tidak dia ditahan untuk dilihat amaan-amalan sunnah yang dapat menutupi kekurangannya,dan setelah itu barulah yang bersangkutan dapat beranjak ke surge.Bila dia tidak lulus,disitu dia akan terjatuh dijalan serta jembatan itu.Demikian dalam banyak kitab tafsir.Ada ulama yang memahami bahwa jahanam sebagai mirshad merupakan peringatan bahwa diatas jahanam itulah orang-orang berlalu (menuju surga).Inilah yang ditunjuk oleh firman Allah : Dan tidak ada seorang pun dari kamu,melainkan akan mendatanginya.Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.(QS.Maryam [19] : 71)
Bermacam-macam kecepatan manusia melalui jalan/jembatan ini.Imam Muslim meriwayatkan bahwa ada yang melewatinya seperti kilat,ada yang seperti angin kencang,ada lagi seperti laju terbangnya burung,demikian seterusnya sampai ada yang melewatinya dengan merayap.Perlu dicatat,bahwa sangat populer ditengah masyarakat muslim bahwa jalan atau jembatan (shirat) itu sangat tipis bagaikan rambut dibelah tujuh.Pendapat ini tidak mempunyai dasar.
Bagi para pendurhaka,pelampau batas yang benar-benar sangat jauh kedurhakaan dan pelampauannya,ia adalah tempat kembali.Kata Ma-aban adalah bentuk jamak dari kata abayang berarti kembali.Para pendurhaka ketika hidup didunia menyiapkan diri mereka nereka itu dengan kedurhakaan yang mereka lakukan.Karena itu setelah mereka meninggal dunia,mereka kembali ke tempat yang mereka siapkan itu.
Mereka terus-menerus tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya tanpa batas waktu.Kata ahqaba adalah bentuk jamak dari kata huqb atau huqub.Ia digunakan untuk masa yang berkepanjangan tetapi tanpa ditentukan masanya.Berbeda dengan kata abad yang dipahami oleh pengguna bahasa Indonesia dan sebagian pengguna bahasa Arab dalam arti masa yang panjangnya 100 tahun.Pengguna bentuk jamak itu mengandung arti bahwa mereka berada disana dari masa yang berkepanjangan ke masa berkepanjangan lainnya,Demikian seterusnya tanpa batas.Dengan kata lain mereka kekal di dalamnya.Apalagi dosa mereka terlalu besar sebagaimana terbaca pada ayat 27 dan 28 surah ini.
Mereka tidak meresakan walau sekali atau sesaat di dalamnya kesejukan lingkungan serta udara yang nyaman dan menyegarkan atau tidak merasakan tidur,dan tidak pula mendapai minuman yang melepaskan dahaga apalagi lezat.Firmannya: Mereka tidak merasakan kesejukan ada yang memahaminya sebagai penjelasan tentang sifat waktu yang berkepanjangan itu.Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa dalam waktu yang berkepanjangan itu mereka tidak merasakannya,lalu setelah waktu itu,mereka memperoleh siksaan lain.
Kata bardan secara umum diartikan dingin atau sejuk.Dalam bahasa suku Hudzail kata tersebut bermakna tidur,karena dengan tidur hilang hangatnya kehausan.Atau seperti ungkapan seorang Arab: mana’a albardu albarda,yang berarti udar dingin telah menghalangi tidur.
Tetapi yang mereka dapatkan adalah air mendidih yang membakar kerongkongan serta perut dan nanah yang mengalir dari luka penghuni nereka.Yang dimaksud dengan al-hamimadalah panas yang telah mencapai puncaknya,yaitu air yang mendidih.Sedangkan ghassaqan adalh sesuatu yang tercurah dan mengalir deras.Yang dimaksud disini,nanah yang mengalir deras secara terus-menerus dari tubuh para penghuni nereka itu.Siksaan itu sebagai pembalasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka.
Ayat :
(17) Sesungguhnya hari pemisahan adalah suatu waktu yang telah ditetapkan.
(18) Yaitu hari ditiup sangkakala lalu kamu telah (pasti) dating berkelompok-kelompok.
(19) Dan dibukalah langit maka menjadilah beberepa pintu.
(20) Dan dijadikanlah gunung-gunung maka menjadilah ia fatamorgana
Tafsir :
Sesungguhnya hari kebangkitan yang dipertentangkan dan diperselisihkan itu dan juga merupakan hari pemisahan antara yang percaya dan yang tidak percaya,yang taat dan durhaka,yang mendapat nikmat dan yang mendapat siksa serta hari jatuhnya putusan menyangkut apa yang diperselisihkan tentang kebangkitan,hari itu adalah suatu waktu yang sejak awal telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum adanya keraguan terhadapnya.Yang dimaksud dengan yaum al fashli adalah hari kiamat,ketika kebenaran tampak nyata dan tirai penutup hati manusia tersingkap sehingga semua yang pernah terbesit di dalamnya menjadi terbuka bagi penglihatan.Maka diputuskanlah antara yang haq dan yang bathil.
Miqatan terambil dari kata miqt,yaitu masa atau tempat yang ditetapkan untuk penyelesaian kegiatan atau peristiwa.Hari kiamat adalah waktu yang dijadikan Allah sebagai masa untuk penyelesaian serta pemberian balasan dan ganjaran bagi makhluk (manusia) yang taat dan durhaka.Pada hari itu semua manusia berkumpul disana,agar setiap orang menyaksikan akibat perbuatannya masing-masing.Dan hal itu telah menjadi ketetapan Allah SWT.Yaitu hari yang pada waktu itu ditiup oleh malaikat isrofil – untuk kedua kalinya – sangkakala lau kamu semua bangkit dari kubur kamu,yaitu keluar dari alam barzakh dan telah yaitu pasti datang berkelompok-kelompok menuju ke padang mahsyar.
Kita tidak mengetahui tentang sangkakala itu kecuali namanya shur,yaitu sangkakala,dan kita tidak ketahui kecuali bahwa ia akan ditiup.Mengenai hal peniupan sangkakala tersebut,kewajiban kita hanya mengimani keterangan ( dalam Al-Quran ) saja,bukan mengetahui cara atau hakikatnya.Peniupan sangkakala yang dimaksud disini adalah peniupan kedua,karena ayat ini berbicara tentang kebangkitan mannusia dari kuburnya,sedang peniupan pertama adalah kematian semua makhluk yang masih hidup di alam raya ini.Allah berfirman: Dan ditiup sangkakala,maka matilah siapa yang di langit siapa yang di bumi kecuali siapa yang di kehendaki Allah.Kemudian ditiup sekali lagi,maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu(putusannya masing-masing).(QS,Az-Zummar [39] : 68)
Dari ayat-ayat Al-Quran dipahami bahwa kebangkitan dari kubur sekaligus peiupan sangkakala,keduanya terjadi setelah kehancuran alam raya.Ayat di atas menempatkan peristiwa kehancuran itu setelah kebangkitan.Ini karena ayat ini bermaksud menyampaikan dengan segera hal yang terpenting.Seperti diketahui,huruf wauw (dan),tidak mengandung makna perurutan kejadian.Ia hanya menginformasikan terjadinya dua peristiwa atau lebih tanpa menunjuk yang mana yang lebih dahulu.Berdeba dengan huruf fa yang bias diterjemahkan ‘ maka atau lalu’,dan berbeda juga dengan tsumma (kemudian).Ada juga ulama yang memahami huruf wauw diatas berfungsi menjelaskan keadaan langit ketika itu,yakni kamu dating berkelompok-kelompok,sedang sementara itu lamgit terpecah belah.Kedatang kelompok-kelompok itu dipahami dalam arti kedatangan setiap umat di bawah pimpinan nabi atau pimpinan mereka.Ada juga yang memahami dalam artri kelompok atau pengamal amal tertentu,ada kelompok pembawa isu negative,ada kelompok pemakan riba,ada kelompok orang-orang yang angkuh,dan lain-lain.
Dan dibukalah langit,yaitu ia pecah dan terbelah menjadi semakin banyak pecahan itu bagaikan beberapa pintu tanpa wujud bangunan.Pembukaan pintu-pintu langit yang dimaksud adalah kehancuran langit.Ini serupa dengan firman-Nya: apabila langit terbelah (QS.Al Infithar [82]:1), dan (QS.Al Insyiqaq [84]:1).Atau seperti firman-Nya:…ingatlah hari ketika langit terbelah dan mengeluarkan kabut… (QS.Al Furqan [25]:25).Pada hari itu berubahlah semua tatanan alam semesta.Tidak ada lagi bumi yang mengangkat (segala yang berada di atasnya) atau langit yang menaungi (segala yang berada di bawahnya).Semuanya akan menjadi pintu-pintu atau ruang terbuka,sehingga tidak ada lagi arah atas atau bawah.Saat itulah saat kehancuran alam ‘atas’ seperti juga kehancuran alam ‘bawah’.Penggunaan kata buka serta dalam bentuk pasif (dibuka) untuk mengisyaratkan mudahnya hal itu dilakukan Allah.Itu hanya bagaikan membuka pintu.Sementara ulama memahami ayat 19 di atas dalam arti ‘Maka berhubunganlah-dengan terbukanya pintu-pintu itu-alam manusia dan alam malaikat’.
Dan dijadikannya gunung-gunung setelah dicabut dan diporak-porandakan maka menjadilah ia debu beterbangan seperti fatamorgana.Ini adalah suatu permisalan bagi terguncangnya bumi pada hari itu.Gunung-gunungnya tidak lagi memiliki kekukuhan seperti yang kita kenal sekarang.Sifat kekukuhan dan kemantapannya akan hilang musnah sehingga ia menjadi laksana fatamorgana,yampak dari kejauhan,namun apabila didekati tidak sesuatu pun yang dapat disentuh.Selain itu,barulah dilenyapkan secara menyeluruh,tidak tersisa dan tidak berbekas sebagaimana firman-Nya: Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung maka katakanlah,” Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari kiamat) sehancur-hancurnya”.(QS.Thaha :105).
Ayat:
(12) Dan Kami telah bangun diatas kamutujuh yang kokoh
(13) dan Kami telah menjadikan pelita yag sangat terang
(14) dan Kami telah menurunkan dari awan air yang tercurah deras
(15) supaya Kami mengeluarkan denganya biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan
(16) dan kebun-kebun yang lebat.
TAFSIR:
Dan Kami telah bangun diatas kamu tujuh lapis langit yang kokoh lagi mantap dan dapat bertahan selama mungkin sampai Kami menetapkan kepunahannya.
Kata sab’an (tujuh) dapat berarti banyak,bukan dalam arti angka yang dibawah delapan dan diatas enam.Atau bisa juga mununjuk pada tempat beredarnya ketujuh bintang sirah (planet)—yang karena kemasyhurannya sampai-sampai kalangan awampun mengenalnya—yang pada masa lampau diduga hanya ketujuhnya yang maengitari matahari.Bukannya yang mereka tidak ketahui dan yang ditemukan setelah masa turunnya al-Qur’an.
Dan Kami telah menjadikan pelita,yaitu matahari yang sangat terang lagi menghasilkan panas sampai batas waktu yang Kami kehendaki.
Berkaitan dengan matahari,ilmuwan telah membuktikan bahwa panas permukaan matahari mencapai 60.000oc,sedangkan panas pusat matahari mencapai 30.000.000oc,disebabkan oleh materi-materi bertekanan tinggi yang ada pada matahari.Sinar matahari menghasilkan energi berupa ultraviolet 9%,cahaya 64%,inframerah 45%.Karena itulah ayat ini menamai matahari sebagai sirajan (pelita) karena mengandung cahaya dan panas secara bersamaan.
Kata wahhajan terambil dari kata wahhaja yang berarti bercahaya atau berkelap-kelip atau menyala.Dan Kami telah menurunkan dari awan yang telah terkumpul padanya uap-uap dari laut air yang tercurah deras.
Mu’shirat adalah bentuk jamak dari kata al-Mu’shir yang terambil dari kata ‘ashara yang berarti memeras.Gadis yang telah hampir haidh dinamai juga mu’shir karena usianya telah mencapai batas yang memungkinkannya untuk mengekuarkan (cairan) darah tertentu dari tubuhnya.Hujan merupakan hasil kumpulan uap-uap air lautan dan samudera yang membentuk awan dan kemudia berubah- setelah semakin membesar-menjadi tetesan-tetesan air atau salju atau kedua-duanya.Uap air yang terkumpul bagaikan diperas lalu tercurah dalam bentuk hujan atau embun.Karena itulah maka awan dinamai al-mu’shirat,yakni yang memeras.
Kata tsajjajan terambil dari kata ats-tsajaja yaitu tercurah dengan deras.Supaya Kami mengeluarkan yakni tumbuh-tumbuhan dengannya yakni dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan antara lain untuk menjadi bahan pangan manusia dan hewan.
Kata linukhrija |supaya kami mengeluarkan digunakan bukan dengan kalimat “ supaya kami menumbuhkan” karena tujuan pemaparan kandungan ayat-ayat diatas adalah untuk membuktikan kuasa Allah membangkitkan dan mengeluarkan manusia dari kuburnya dalam keadaan hidup,atau dengan kata lain membangkitkan dari kubur.
Al-habbu adalah biji-bijian yang digunakan sebagai makanan pokok manusia seperti gandum,padi,dsb.Sedangkan an-nabatu adalah tetumbuhan untuk makanan hewan seperti ilalang,rumput,dsb.
Kata alfafan adalah bentuk jamak dari kata lafif yang terambil dari kata laffa,yaitu mengelilingi dan membungkus pepohonan.Yang dimaksud adalah dahan dan daun-daun kebun yang kait berkait mengelilingi satu dengan lainnya karena lebatnya.
Jumat, 01 November 2013
Ayat :
(6) Bukankah Kami telah menjadikan bumi ayunan ?
(7) Dan gunung-gunung pasak-pasak ?
(8) Dan kami telah menciptakan kamu berpasang-pasangan
(9) Dan kami telah menjadikan tidur sebagai pemutus
(10) Dan kami telah menjadikan malam pakaian
(11) Dan kami telah menjadikan siang hidup
TAFSIR
Setelah itu Allah Swt mengingatkan pada mereka kuasa-Nya dan tanda-tanda rahmat-Nya.Bukankah kami telah menjadikan bumi bagaikan ayunan,sehingga kamu dapat menggunakannya dengan nyaman.
Mihadan terambil dari kata Mahd,yakni sesuatu yang disiapkan dan dihamparkan secara halus dan nyaman.Dari sini ayunan dinamai Mahd.Allah telah menyiapkan bumi ini sedemikian rupa,menetapkan dan mengatur sistemnya serta menentukan kadar-kadar yang berkaitan dengannya sehimgga menjadi nyaman dihuni manusia.Kata Mihadan berarti juga hamparan atau alas untuk duduk,berjalan,tidur dsb.Allah telah menjadikan bumi ini sebagai temapat tinggal manusia dan hewan,karenanya ia dimisalkan sebagai yang terhampar bagaikan permadani bagi pelbagai kegiatan mereka.
Dan Allah Menjadikan gunung-gunung sebagai Pasak-pasak guna menguatkan bumi.Kata Autadan adalah bentuk jamak dari kata Watad,yaitu paku yang besar.Masyarakat Arab lampausangat mengenal kemah,karena dalam perjalanan selalu menggunakannya.Untuk memasang kemah diperlukan tali-tali dan pematokyang kuat yang ditanam agar kemah tidak diterbangkan angin.Ayat ini menggambarkan pada mereka keadaan gunung-gunung sebagai pasak-pasak yang berfungsi sebagai pematok-pematok bumi,seperti halnya kemah yang juga memerlukan pematok agar dia tidak oleng atau bergoyang,disebabkan bahan-bahan (logam-logam) tertentu yang senantiasa bergolak didalamnya.
Dan kami telah menciptakan kamu wahai manusia,bahkan semua makhluk Berpasang-pasangan,yaitu lelaki dan perempuan,jantan dan betina,positif dan negatif.
Dan kami telah menjadikan tidur kamu ssebagai Pemutus segala kegiatan kamu sehingga kamu dapat beristirahat.Subatan terambil dari kata Sabata (memutus).Yang diputuskannya adalah kegiatan sehingga pada akhirnya ia mengandung makna istirahat.Ada juga yang memahaminya sejak semula dalam arti tenang,yaitu tenangnya beberapa potensi yang tadinya giat,yaitu saat orang sedang sadar.Disini kata tersebut berarti tidur.
Tidur adalah salah satu diantara dari dua jenis kematian."Kematian" beberapa jam akan mengistirahatkan anggota tubuh setelah kelelahan,menggiatkan kembali setelah rasa malas,dan mengembalikan tenaga setelah kehilangannnya.
Dan kami telah menjadikan malam dengan kegelapannya bagai Pakaian yang menutupi pandangan pihak lain dari apa yang enggan diperlihatkan.
Dan kami telah menjadikan siang untuk mencari saran dan kebutuhan Hidup.Ma'asyan terambil dari kata 'Asya (Hidup).Kata Ma'asyan digunakan dalam arti hidupjuga dalam arti sarana hidup,seperti makan dan minum.
Ayat diatas menggunakan kata Naj'al dan Ja'alna dalam beberapa hal yang disebutkannya kecuali kata Aswajan (Berpasang-pasangan) yang menggunakan kata Khalaqa bisa berarti menjadikan,jika objeknya dua seperti pada ayat 8 diatas.Kata Ja'ala digunakan al-quran antara lain untuk menekankan betapa besar manfaat dari apa yang dijadikan Allah itu dan hendaknya manusia dapat menyadari dan memanfaatkannya sebaik mungkin.Sedang kata Khalaqa penekanannya pada keagungan Allah dan kehebatan ciptaan yang diciptakan-Nya itu.Ini berarti ayat-ayat diatas menekankan perlunya manusia memanfaatkan sebaik mungkin bumi yang terhampar itu,gunung-gunung yang menjulang tinggi,semua waktu-waktu yang disiapkan Allah untuk tidur dan bekerja.Disisi lain,keberadaan pasangan-pasangan hendaknya dimanfaatkan manusia karenakeberpasangan itu merupakan suatu hal yang sangat hebat serta bukti yang sangat jelas bagi kuasa Allah SWT.
Allah dalam ayat diatas menunjuk diri-Nya dengan kata Kami.Ini disamping intuk memberi kesan keagungan dan kebesaran-Nya juga untuk mengisyaratka bahwa hal-hal tersebut melalui sistem yang ditetapkan Allah bagi kejadian,yaitu Allah menciptakan sebab-sebab,dan melalui sebab-sebab itu hal-hal yang disebut ayat-ayat diatas dapat terlaksana.Penggunaan bentuk kata kerja masa lampau (Madhi) pada ayat-ayat diatas mengesankan bahwa itu telah dilakukan Allah,tetapi jika berhendak,Dia dapat menghentikan anugerah-Nya itu sehingga dapat tidak nyaman dihuni,malam tidak lagi gelap atau manusia tidak dapat tidur,siang pun dapat dijadikannya tidak dapat dimanfaatkan.Karena itu jangan mendurhakai Allah dan jangan menolak kehadiran utusan-Nya.
(6) Bukankah Kami telah menjadikan bumi ayunan ?
(7) Dan gunung-gunung pasak-pasak ?
(8) Dan kami telah menciptakan kamu berpasang-pasangan
(9) Dan kami telah menjadikan tidur sebagai pemutus
(10) Dan kami telah menjadikan malam pakaian
(11) Dan kami telah menjadikan siang hidup
TAFSIR
Setelah itu Allah Swt mengingatkan pada mereka kuasa-Nya dan tanda-tanda rahmat-Nya.Bukankah kami telah menjadikan bumi bagaikan ayunan,sehingga kamu dapat menggunakannya dengan nyaman.
Mihadan terambil dari kata Mahd,yakni sesuatu yang disiapkan dan dihamparkan secara halus dan nyaman.Dari sini ayunan dinamai Mahd.Allah telah menyiapkan bumi ini sedemikian rupa,menetapkan dan mengatur sistemnya serta menentukan kadar-kadar yang berkaitan dengannya sehimgga menjadi nyaman dihuni manusia.Kata Mihadan berarti juga hamparan atau alas untuk duduk,berjalan,tidur dsb.Allah telah menjadikan bumi ini sebagai temapat tinggal manusia dan hewan,karenanya ia dimisalkan sebagai yang terhampar bagaikan permadani bagi pelbagai kegiatan mereka.
Dan Allah Menjadikan gunung-gunung sebagai Pasak-pasak guna menguatkan bumi.Kata Autadan adalah bentuk jamak dari kata Watad,yaitu paku yang besar.Masyarakat Arab lampausangat mengenal kemah,karena dalam perjalanan selalu menggunakannya.Untuk memasang kemah diperlukan tali-tali dan pematokyang kuat yang ditanam agar kemah tidak diterbangkan angin.Ayat ini menggambarkan pada mereka keadaan gunung-gunung sebagai pasak-pasak yang berfungsi sebagai pematok-pematok bumi,seperti halnya kemah yang juga memerlukan pematok agar dia tidak oleng atau bergoyang,disebabkan bahan-bahan (logam-logam) tertentu yang senantiasa bergolak didalamnya.
Dan kami telah menciptakan kamu wahai manusia,bahkan semua makhluk Berpasang-pasangan,yaitu lelaki dan perempuan,jantan dan betina,positif dan negatif.
Dan kami telah menjadikan tidur kamu ssebagai Pemutus segala kegiatan kamu sehingga kamu dapat beristirahat.Subatan terambil dari kata Sabata (memutus).Yang diputuskannya adalah kegiatan sehingga pada akhirnya ia mengandung makna istirahat.Ada juga yang memahaminya sejak semula dalam arti tenang,yaitu tenangnya beberapa potensi yang tadinya giat,yaitu saat orang sedang sadar.Disini kata tersebut berarti tidur.
Tidur adalah salah satu diantara dari dua jenis kematian."Kematian" beberapa jam akan mengistirahatkan anggota tubuh setelah kelelahan,menggiatkan kembali setelah rasa malas,dan mengembalikan tenaga setelah kehilangannnya.
Dan kami telah menjadikan malam dengan kegelapannya bagai Pakaian yang menutupi pandangan pihak lain dari apa yang enggan diperlihatkan.
Dan kami telah menjadikan siang untuk mencari saran dan kebutuhan Hidup.Ma'asyan terambil dari kata 'Asya (Hidup).Kata Ma'asyan digunakan dalam arti hidupjuga dalam arti sarana hidup,seperti makan dan minum.
Ayat diatas menggunakan kata Naj'al dan Ja'alna dalam beberapa hal yang disebutkannya kecuali kata Aswajan (Berpasang-pasangan) yang menggunakan kata Khalaqa bisa berarti menjadikan,jika objeknya dua seperti pada ayat 8 diatas.Kata Ja'ala digunakan al-quran antara lain untuk menekankan betapa besar manfaat dari apa yang dijadikan Allah itu dan hendaknya manusia dapat menyadari dan memanfaatkannya sebaik mungkin.Sedang kata Khalaqa penekanannya pada keagungan Allah dan kehebatan ciptaan yang diciptakan-Nya itu.Ini berarti ayat-ayat diatas menekankan perlunya manusia memanfaatkan sebaik mungkin bumi yang terhampar itu,gunung-gunung yang menjulang tinggi,semua waktu-waktu yang disiapkan Allah untuk tidur dan bekerja.Disisi lain,keberadaan pasangan-pasangan hendaknya dimanfaatkan manusia karenakeberpasangan itu merupakan suatu hal yang sangat hebat serta bukti yang sangat jelas bagi kuasa Allah SWT.
Allah dalam ayat diatas menunjuk diri-Nya dengan kata Kami.Ini disamping intuk memberi kesan keagungan dan kebesaran-Nya juga untuk mengisyaratka bahwa hal-hal tersebut melalui sistem yang ditetapkan Allah bagi kejadian,yaitu Allah menciptakan sebab-sebab,dan melalui sebab-sebab itu hal-hal yang disebut ayat-ayat diatas dapat terlaksana.Penggunaan bentuk kata kerja masa lampau (Madhi) pada ayat-ayat diatas mengesankan bahwa itu telah dilakukan Allah,tetapi jika berhendak,Dia dapat menghentikan anugerah-Nya itu sehingga dapat tidak nyaman dihuni,malam tidak lagi gelap atau manusia tidak dapat tidur,siang pun dapat dijadikannya tidak dapat dimanfaatkan.Karena itu jangan mendurhakai Allah dan jangan menolak kehadiran utusan-Nya.
Jumat, 25 Oktober 2013
TAFSIR AN-NABA'
assalamualaikum wr.wb para pemabaca sekalian,berikut ini adalah artikel atau catatan tentang tafsir surah an-naba' dari ayat 1-40.Ayata-ayat surah ini disepakati turun sebelum nabi SAW berhijrah ke Madinah.Namanya an-naba',ada yang menambahkan kata al 'azhim,demikian juga surah 'Amma yatasa-alun,dan ada yang mempersingkat dengan menamainya surah 'Amma.Nama lainnya adalah At-Tasa'ul,juga Al Mu'shirat yang diangkat dari ayat pertama dan kedua dari surah ini.
Menurut beberapa pakar,ini merupakan surah ke 80 dari segi perurutan turunnya surah-surah Al-Quran.Ia turun setelah surah Al-Ma'rij dan sebelum surah An-Naziat.Jumlah ayatnya menurut perhitungan ulama Madinah,Syam dan Bashrah adalah 40 ayat,sedang menurut perhitungan ulama Mekkah dan Kuffah adalah 41 ayat.
Ayat : 1-5
Tentang apakah mereka bertanya,yakni penduduk Mekkah itu saling bertanya .Disini tidak disebutkan tentang apa sebenarnya yang mereka pertanyakan.Ini demi menunjukan keseriusan hal itu.Kata Amma' kata yang terdiri dari huruf 'an dan ma.Lalu huruf alif pada huruf ma dihapus untuk mempersingkat,sekaligus mengisyaratkan bahwa pertanyaan itu dihapus dan tidak perlu muncul.Ini adalah sesuatu yang sangat jelas,sehingga sungguh aneh yang mempertanyakannya,apalagi yang mengingkarinya.Yatasa'alun terambil dari kata Tasa'ala yang menunjukan ada dua pihak yang saling bertanya.Ia digunakan juga arti seringnya terjadi hal tersebut.
Mereka bertanya tentang berita besar,yaitu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,antara lain keniscayaan kiamat,yang mereka tentang beruta penting itu saling berselisih.Ada yang membenarkannya tanpa ragu,ada yang bimbang untuk menerimanya,ada yang menolaknya,ada juga yang menerimanya tapi mengingkarinya karena keras kepala..Kata An-naba' hanya digunakan untuk berita yang penting.Berbeda dengan kata Khabar yang pada umumnya digunakan juga untuk berita-berita sepele.sementara ulama mengatakan bahwa berita baru dinamakan naba' apabila mengandung manfaat besar dalam pemberitaanya,adanya kepastian, atau paling tidak dugaan besar tentang kebenarannya.
Penyifatan An-naba' dengan Al-azhim (besar - agung)menunjukan bahwa berita itu bukanlah berita biasa.Bukan saja pada peristiwanya tapi juga pada kejelasan dan bukti-buktinya,sehingga mestinya ia tidak dipertanyakan lagi.Kata ganti hum (mereka) yang disimi berstatus sebagai pelaku,menunjukan bahwa perbedaan mereka menyangkut hal yang mereka saling pertanyakan itu sangat besar,bahkan seakan-akan tidak ada lagi perbedaan yang lain antar mereka kecuali hal tersebut.Ini diisyaratkan oleh penempatan kata fihi antara kata hum(mereka)dan mukhtalifun(melakukan perselisihan).
Pengingkaran dan kebimbangan mereka itu dikecam oleh Allah SWT dengan firman-Nya : sekali-kali tidak,bukanlah hal yang demikian pasti dan jelas itu yang masih perlu dipertanyakan apalagi diingkari.Hendaknya mereka berhati-hati terhadap akibat pengingkaran itu,kelak mereka akan mengetahui secara pasti kebenarannyasemua akibat penolakan mereka itu,yaitu ketika mereka menyaksikan sendiri kejadiannya.
Kata Kalla (sekali-kali tidak) dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap suatu yang tidak benar,yakni pasti akan terungkap hakikat berita itu bagi mereka.Dan mereka akan menyaksikan kebenarannya kelak pada hari kiamat.Kemudian sekali lagi,sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui betapa besar siksa yang menimpa akibat penolakan itu.Kata tsumma(kemudian) pada ayat ini mengesankan bahwa ancaman yang dikandung oleh ayat sesudah kata tsumma itu lebih besar dari ayat sebelumnya.
Menurut beberapa pakar,ini merupakan surah ke 80 dari segi perurutan turunnya surah-surah Al-Quran.Ia turun setelah surah Al-Ma'rij dan sebelum surah An-Naziat.Jumlah ayatnya menurut perhitungan ulama Madinah,Syam dan Bashrah adalah 40 ayat,sedang menurut perhitungan ulama Mekkah dan Kuffah adalah 41 ayat.
Ayat : 1-5
- Tentang apakah mereka saling bertanya ?
- Tentang berita besar
- yang mereka tentang itu saling berselisih
- Sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui
- Kemudian sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui.
Tentang apakah mereka bertanya,yakni penduduk Mekkah itu saling bertanya .Disini tidak disebutkan tentang apa sebenarnya yang mereka pertanyakan.Ini demi menunjukan keseriusan hal itu.Kata Amma' kata yang terdiri dari huruf 'an dan ma.Lalu huruf alif pada huruf ma dihapus untuk mempersingkat,sekaligus mengisyaratkan bahwa pertanyaan itu dihapus dan tidak perlu muncul.Ini adalah sesuatu yang sangat jelas,sehingga sungguh aneh yang mempertanyakannya,apalagi yang mengingkarinya.Yatasa'alun terambil dari kata Tasa'ala yang menunjukan ada dua pihak yang saling bertanya.Ia digunakan juga arti seringnya terjadi hal tersebut.
Mereka bertanya tentang berita besar,yaitu yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,antara lain keniscayaan kiamat,yang mereka tentang beruta penting itu saling berselisih.Ada yang membenarkannya tanpa ragu,ada yang bimbang untuk menerimanya,ada yang menolaknya,ada juga yang menerimanya tapi mengingkarinya karena keras kepala..Kata An-naba' hanya digunakan untuk berita yang penting.Berbeda dengan kata Khabar yang pada umumnya digunakan juga untuk berita-berita sepele.sementara ulama mengatakan bahwa berita baru dinamakan naba' apabila mengandung manfaat besar dalam pemberitaanya,adanya kepastian, atau paling tidak dugaan besar tentang kebenarannya.
Penyifatan An-naba' dengan Al-azhim (besar - agung)menunjukan bahwa berita itu bukanlah berita biasa.Bukan saja pada peristiwanya tapi juga pada kejelasan dan bukti-buktinya,sehingga mestinya ia tidak dipertanyakan lagi.Kata ganti hum (mereka) yang disimi berstatus sebagai pelaku,menunjukan bahwa perbedaan mereka menyangkut hal yang mereka saling pertanyakan itu sangat besar,bahkan seakan-akan tidak ada lagi perbedaan yang lain antar mereka kecuali hal tersebut.Ini diisyaratkan oleh penempatan kata fihi antara kata hum(mereka)dan mukhtalifun(melakukan perselisihan).
Pengingkaran dan kebimbangan mereka itu dikecam oleh Allah SWT dengan firman-Nya : sekali-kali tidak,bukanlah hal yang demikian pasti dan jelas itu yang masih perlu dipertanyakan apalagi diingkari.Hendaknya mereka berhati-hati terhadap akibat pengingkaran itu,kelak mereka akan mengetahui secara pasti kebenarannyasemua akibat penolakan mereka itu,yaitu ketika mereka menyaksikan sendiri kejadiannya.
Kata Kalla (sekali-kali tidak) dimaksudkan sebagai penyangkalan terhadap suatu yang tidak benar,yakni pasti akan terungkap hakikat berita itu bagi mereka.Dan mereka akan menyaksikan kebenarannya kelak pada hari kiamat.Kemudian sekali lagi,sekali-kali tidak,kelak mereka akan mengetahui betapa besar siksa yang menimpa akibat penolakan itu.Kata tsumma(kemudian) pada ayat ini mengesankan bahwa ancaman yang dikandung oleh ayat sesudah kata tsumma itu lebih besar dari ayat sebelumnya.
Bersambung...........
Langganan:
Komentar (Atom)