Jumat, 29 November 2013

Ayat: (21) Sesungguhnya jahanam adalah tempat mengintai. (22) Bagi para pelampau batas ia adalah tempat kembali. (23) Mereka tinggal didalamnya beabad-abad lamanya. (24) Mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak (pula) minum. (25) Tetapi air mendidih dan nanah. (26) Sebagai balasan yang setimpal. TAFSIR: Sesungguhnya neraka jahanam adalah tempat mengintaipara penjaga neraka atau ia adalah jalan yang harus dilalui semua manusia.Mirshadan terambil dari kata rashada yang dapat berarti menyiapkan atau mengintai.Bila kita memahaminya dalam arti yang kedua ini,maka ia pun dapat diartikan dengan jalan.Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada jembatan di neraka dimana ada pengawas (penjaga-penjaga) yang menanyakan setiap orang yang melewatinya,tentang syahadatnya,bila berhasil dia melanjutkan pejalanan untuk sampai pada penanya kedua tentang sholatnya.Demikian lalu tentang zakatnya,kemudian tentang puasanya,kemudian tentang hajinya lalu ‘umrahnya,dan yang terakhir atau yang ketujuh adalah tentang penganiayaan-penganiayaan yang pernah dilakukannya.Jika memenuhi syarat dia lolos,dan bila tidak dia ditahan untuk dilihat amaan-amalan sunnah yang dapat menutupi kekurangannya,dan setelah itu barulah yang bersangkutan dapat beranjak ke surge.Bila dia tidak lulus,disitu dia akan terjatuh dijalan serta jembatan itu.Demikian dalam banyak kitab tafsir.Ada ulama yang memahami bahwa jahanam sebagai mirshad merupakan peringatan bahwa diatas jahanam itulah orang-orang berlalu (menuju surga).Inilah yang ditunjuk oleh firman Allah : Dan tidak ada seorang pun dari kamu,melainkan akan mendatanginya.Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.(QS.Maryam [19] : 71) Bermacam-macam kecepatan manusia melalui jalan/jembatan ini.Imam Muslim meriwayatkan bahwa ada yang melewatinya seperti kilat,ada yang seperti angin kencang,ada lagi seperti laju terbangnya burung,demikian seterusnya sampai ada yang melewatinya dengan merayap.Perlu dicatat,bahwa sangat populer ditengah masyarakat muslim bahwa jalan atau jembatan (shirat) itu sangat tipis bagaikan rambut dibelah tujuh.Pendapat ini tidak mempunyai dasar. Bagi para pendurhaka,pelampau batas yang benar-benar sangat jauh kedurhakaan dan pelampauannya,ia adalah tempat kembali.Kata Ma-aban adalah bentuk jamak dari kata abayang berarti kembali.Para pendurhaka ketika hidup didunia menyiapkan diri mereka nereka itu dengan kedurhakaan yang mereka lakukan.Karena itu setelah mereka meninggal dunia,mereka kembali ke tempat yang mereka siapkan itu. Mereka terus-menerus tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya tanpa batas waktu.Kata ahqaba adalah bentuk jamak dari kata huqb atau huqub.Ia digunakan untuk masa yang berkepanjangan tetapi tanpa ditentukan masanya.Berbeda dengan kata abad yang dipahami oleh pengguna bahasa Indonesia dan sebagian pengguna bahasa Arab dalam arti masa yang panjangnya 100 tahun.Pengguna bentuk jamak itu mengandung arti bahwa mereka berada disana dari masa yang berkepanjangan ke masa berkepanjangan lainnya,Demikian seterusnya tanpa batas.Dengan kata lain mereka kekal di dalamnya.Apalagi dosa mereka terlalu besar sebagaimana terbaca pada ayat 27 dan 28 surah ini. Mereka tidak meresakan walau sekali atau sesaat di dalamnya kesejukan lingkungan serta udara yang nyaman dan menyegarkan atau tidak merasakan tidur,dan tidak pula mendapai minuman yang melepaskan dahaga apalagi lezat.Firmannya: Mereka tidak merasakan kesejukan ada yang memahaminya sebagai penjelasan tentang sifat waktu yang berkepanjangan itu.Seakan-akan ayat ini menyatakan bahwa dalam waktu yang berkepanjangan itu mereka tidak merasakannya,lalu setelah waktu itu,mereka memperoleh siksaan lain. Kata bardan secara umum diartikan dingin atau sejuk.Dalam bahasa suku Hudzail kata tersebut bermakna tidur,karena dengan tidur hilang hangatnya kehausan.Atau seperti ungkapan seorang Arab: mana’a albardu albarda,yang berarti udar dingin telah menghalangi tidur. Tetapi yang mereka dapatkan adalah air mendidih yang membakar kerongkongan serta perut dan nanah yang mengalir dari luka penghuni nereka.Yang dimaksud dengan al-hamimadalah panas yang telah mencapai puncaknya,yaitu air yang mendidih.Sedangkan ghassaqan adalh sesuatu yang tercurah dan mengalir deras.Yang dimaksud disini,nanah yang mengalir deras secara terus-menerus dari tubuh para penghuni nereka itu.Siksaan itu sebagai pembalasan yang setimpal dengan amal perbuatan mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar